Jumat, 23 Juni 2023

 

Assalamualaikum

Pada kesempatan kali ini saya akan bercerita mengenai awal mula saya bertemu dan berteman dengan teman tuli.

Hari itu saya kedatangan tamu dari Bandung, tapi uniknya ada beberapa teman yang baru pertama saya temui. Saya rasa mereka biasa biasa saja, wajahnya ayu ayu khas mojang Bandung. Tapi mereka berbicara menggunakan bahasa isyarat. Aku awal mulanya bingung, takut dan ngak percaya diri. Aku sama sekali ngak bisa, dan bingung apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi yang membuat nyaman itu ketika awal bertemu tadi dan bersalaman, seakan ada kehangatan yang berdeda, ada dekapan kasih sayang dan kerinduan, seakan sudah lama tak berjumpa dengan teman lama. Padahal kami baru pertama kali bertemu.

 

Karena terlihat bingung saya diajak bicara oleh teman saya, setelah lama bercerita barulah saya tau beliau adalah seorang penerjemah bahasa isyarat. Bu Yahya bercerita, dulu ketika beliau pertama kali bertemu dengan teman tuli, ketika mengobrol dengan mereka dan sampailah kepertanyaan tentang agama. Kebanyakan dari mereka belum paham. Ditanya Allah ada tiga, ada yang menjawab tidak tau Allah. Padahal pas ditanya agamamu apa? Serentak mereka menjawab Islam. Ya Allah. Apa lagi ditanya tentang nabi Muhammad, tentang sholat, tentang halal haram atau tentang syarat dan batal suatu ibadah. Mereka tidak tau. Astaghfirullah

 

Bukan kami kasihan kepada mereka. Tapi sudah sejauh mana agama sampai kepada mereka ?

Bagaimana nasib kami ketika diakhirat nanti ? Bagaimana kami ketika di Yaumil hisab dan Allah meminta pertanggung jawaban kepada kami. Bukan berarti kami adalah guru atau ulama. Tapi ketika suatu ilmu telah sampai kepada kita, kita wajib menyampaikannya. Itulah yang paling berat. Bagaimana nanti di akhirat mereka menuntut pertanggung jawaban ? sedangkan kita sudah tau ilmunya. Dan seketika, aku pun teringat, tetanggaku ada sepasang disabilitas tuli dan aku tidak mengetahui apakah telah sampai agama kepada mereka ataukah belum ?

Kemudian teman saya bercerita kembali, itulah yang menjadi strong why beliau untuk bisa bahasa isyarat. Agar kita bisa menyampaikan agama kepada mereka. Agar kita bisa selamat di Yaumil hisab nanti.

 

Masih banyak cerita yang mungkin tidak bisa diceritakan. InsyaAllah saya akan menceritakan kembali bagaimana saya bertemu tetangga yang merupakan disabilitas tuli dan bagaimana saya dan suami berkunjung ke beberapa rumah teman tuli di tasikmalaya sampai kami mempunyai keyakinan untuk membuka Majelis Ta’lim khusus tuli. Banyak sekali moment yang membuat hati ini tercengang, pilu dan banyak bersyukur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

I LOVE MY SELF

  I love my self (Materi Zona 1 oleh Michelle Ronida CH., CHt) Egois adalah orang yang hanya berfokus pada dirinya, mengambil hak orang ...